Recent Posts

SELAMAT DATANG SAHABAT dan SAUDARA

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jasa Pengerjaan Interior


 Rumah Rapih Mewah dan Tertata menjadi kebutuhan... bersama kami bisa diwujudkan... Budget dapat disesuaikan... hubungi... +62 857-7750-4656

Jasa Desain Grafis

 "Promo Spesial: Jasa Desain Logo di Bulan Ini!"


Jasa Makalah Presentasi Islami


 "Jangan biarkan tugas makalah Islami menumpuk! Kami tawarkan solusi lengkap: riset mendalam, penulisan berkualitas, dan presentasi menarik. Harga spesial untuk bulan ini! Konsultasi sekarang!"

hubungi kami: +62 857-7750-4656

Sebuah Nilai

"Tidak menghargai" adalah sikap merendahkan atau tidak mengakui nilai orang lain, sementara "tidak berguna" adalah penilaian objektif terhadap fungsi atau manfaat sesuatu (atau seseorang) yang dianggap tidak memberikan kontribusi,

Perbedaannya terletak pada fokus:
Sikap interpersonal (tidak menghargai) vs. fungsi/nilai (tidak berguna), di mana seseorang bisa saja tidak berguna secara fungsi namun tetap perlu dihargai sebagai manusia, dan sebaliknya.

Kerja adalah Ibadah

Hidup ini harus seimbang. Banyak kewajiban yang harus kita tunaikan. Ada kewajiban kepada Allah seperti shalat dan puasa. 

Ada kewajiban terhadap diri sendiri agar tubuh sehat hingga bisa menjalankan kewajiban-kewajiban lainnya. Juga ada kewajiban mencari nafkah untuk keluarga. Semuanya menjadi berpahala ketika kita meluruskan niat sebagai ibadah kepada-Nya. 

Sesuatu yang kita sangka sebagai urusan dunia, ia bisa mendatangkan pahala besar ketika kita niat benar. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Hadits Arbain ke-1:

 إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى 

 Sesungguhnya semua amal tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. (HR. Bukhari dan Muslim) 

 Misalnya bekerja. Kita niatkan bekerja untuk mencari ridha Allah dalam menjemput rezeki-Nya. Agar dengan rezeki itu kita bisa makan dan memiliki energi untuk beribadah kepada-Nya. Dengan rezeki itu kita bisa memberikan nafkah untuk keluarga, menyekolahkan anak-anak agar menjadi shalih-shalihah yang berilmu dan berguna. 

Dengan bekerja, kita juga berbagi kemanfaatan dan membantu orang lain melalui produk atau jasa kita.

 رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ 

Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil karena niat. (Abdullah bin Mubarak) 

 Bekerja adalah ibadah. Apalagi setelah hasilnya menjadi nafkah, ia menjadi berpahala sedekah. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

 مَا أَطْعَمْتَ نَفْسَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ وَلَدَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ زَوْجَتَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ خَادِمَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ 
 
Harta yang engkau keluarkan untuk keperluan konsumsimu, maka ia adalah sedekah untukmu. Makanan yang engkau berikan kepada anakmu, itu juga sedekah bagimu. Begitu pula makanan yang engkau berikan kepada istrimu, itu pun bernilai sedekah untukmu. Juga makanan yang engkau beri pada pembantumu, itu juga termasuk sedekah. (HR. Ahmad; hasan).

Kerja Itu Fi Sabilillah

Suatu hari, para sahabat berada di Masjid Nabawi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu lewatlah seorang laki-laki yang gagah, sedang berangkat bekerja dengan semangat. Sebagian sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya semangat dan tenaga orang itu disalurkan di jalan Allah” Rasulullah mengerti maksud sahabat tadi. Ia membayangkan jika semangat dan energi laki-laki tersebut untuk perang atau jihad fi sabilillah, tentulah itu akan sangat baik. Akan tetapi, Rasulullah tidak sepenuhnya menyetujui pandangan ini. Beliau pun bersabda:

 إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يُعِفُّهَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ رِيَاءً وَمُفَاخَرَةً فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ 

 Jika ia keluar untuk bekerja demi anak-anaknya yang masih kecil, maka ia fi sabilillah (di jalan Allah). Jika ia keluar untuk bekerja demi dua orang tuanya yang sudah tua renta, maka ia fi sabilillah. Dan jika ia keluar untuk bekerja agar tidak meminta-minta, maka ia juga fi sabilillah. Sedangkan jika ia keluar untuk bekerja karena riya’ dan bangga diri, maka ia fi sablilisy syaithan (di jalan setan). (HR. Thabrani; shahih lighairihi) 

 Hadits ini selayaknya meluruskan pemahaman kita. Dengan niat yang benar, bekerja adalah ibadah, bahkan bahkan termasuk fi sabilillah. Hadits ini juga sepatutnya mengoreksi persepsi kita tentang kesholehah. Bahwa sholeh itu bukan hanya beribadah mahdlah kepada Allah, tetapi juga menunaikan kewajiban terhadap manusia. Antara lain bekerja untuk memenuhi nafkah keluarga. Malas kerja karena menganggapnya mubah adalah pemahaman yang salah. Malas kerja sehingga melalaikan kewajiban terhadap keluarga adalah dosa. Sedangkan menutupi malas kerja dengan kedok sibuk beribadah adalah bentuk kemunafikan.